Bogor, 27 Oktober 2025 — Koleksi ilmiah merupakan pondasi penting bagi riset, konservasi, dan inovasi berkelanjutan. Hal ini diungkap pada acara webinar TakSon (Talk about Scientific Collection) Series #02 dengan tema “Mengungkap Kekayaan dan Pemanfaatan Koleksi Ilmiah BRIN: Seri Koleksi Ilmiah Tumbuhan Hidup di Kebun Raya Bogor dan Xylarium”. Webinar ini diselenggarakan oleh Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah (DPKI) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang merupakan salah satu anggota TKMH Kehutanan, sebagai upaya dalam mengedukasi dan menyebarluaskan pengetahuan mengenai koleksi ilmiah Indonesia, sekaligus memperkenalkan potensi riset, konservasi, dan inovasi yang dapat dikembangkan dari kekayaan koleksi ilmiah BRIN.
Pusat Pengembangan Hutan Berkelanjutan (P2HB) turut mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut melalui partisipasi aktif Tim Sekretariat TKMH Kehutanan. Keterlibatan ini menjadi sarana untuk memperluas wawasan, meningkatkan kapasitas, serta memperkuat jejaring pengetahuan dalam pengelolaan koleksi ilmiah.
Acara dibuka dengan sambutan oleh Dr. Sasa Sofyan Munawar, S.Hut., M.P., Direktur Pengelolaan Koleksi Ilmiah BRIN, yang menekankan pentingnya mensyiarkan kembali koleksi ilmiah Indonesia agar lebih dikenal oleh masyarakat luas dan dunia akademik.
“Koleksi ilmiah merupakan aset nasional yang sarat nilai penelitian, konservasi, dan sejarah. Melalui kegiatan TakSon ini, kita ingin membangkitkan kembali kesadaran dan apresiasi terhadap koleksi ilmiah yang ada di BRIN,” ujar Dr. Sasa.
Narasumber pertama, Dwi Setyanti, S.P., M.Si., PIC Fungsi Pemrosesan – Koleksi Ilmiah Tumbuhan Hidup di Kebun Raya Bogor, memaparkan tata kelola koleksi ilmiah tumbuhan hidup di lingkungan DPKI BRIN. Ia menjelaskan bahwa Kebun Raya Bogor, yang telah berusia 208 tahun, adalah kebun raya tertua di Asia Tenggara dan memiliki dinamika koleksi yang selalu berkembang setiap hari.
Dwi menekankan bahwa koleksi tumbuhan hidup di Kebun Raya Bogor tidak hanya berfungsi sebagai sarana konservasi, tetapi juga sebagai sumber penelitian ilmiah, pendidikan, dan referensi penting bagi pengembangan ilmu botani, bioteknologi, dan ekowisata edukatif.
“Setiap spesimen di Kebun Raya Bogor memiliki nilai ilmiah dan sejarah tersendiri. Pemanfaatannya kini meluas, mulai dari konservasi hingga mendukung riset multidisiplin dan inovasi berbasis biodiversitas,” jelas Dwi.
Narasumber kedua, Sri Novianti, S.Si., Fungsi Pemrosesan – Koleksi Ilmiah Xylarium, membahas koleksi Xylarium BRIN, yaitu kumpulan spesimen kayu dari berbagai wilayah Indonesia. Ia menekankan bahwa Xylarium bukan sekadar koleksi kayu, tetapi representasi keanekaragaman hutan Indonesia yang menjadi sumber data penting untuk penelitian, konservasi, dan pengembangan industri kayu legal.
“Melalui Xylarium, kita dapat memahami karakteristik kayu dari seluruh Indonesia, mendukung pengawasan perdagangan kayu legal, serta memperkuat upaya pelestarian hutan dan sumber daya alam,” ujar Sri Novianti. Webinar TakSon, yang juga dapat diikuti melalui YouTube Streaming di https://s.brin.go.id/l/G6ePrbmsbw ini, merupakan wujud komitmen DPKI BRIN dalam meningkatkan kesadaran publik, memperkuat jejaring ilmiah, serta mendorong kolaborasi lintas disiplin.